Masamasukkan duit dalam wallet tuh. Doa Murah Rezeki Kata Kata Indah Kata Kata Motivasi Doa. Judul Surah: Doa Murah Rezeki Kata Kata Indah Kata Kata Motivasi Doa. Format Surah: PNG. Ukuran File Surah: 1.8mb inna haza larizquna maalahu minnafad artinya. Tanggal post: November 2020.
Al-Qur’an merupakan firman-firman Allah yang suci dengan kandungan makna yang mulia sebagai panduan kehidupan umat Islam di dunia. Dengan gaya bahasa yang indah dan penuh makna, Al-Qur’an mampu menyejukkan hati bagi yang membaca dan juga yang mendengarkannya. Selain dalam bentuk kalimat-kalimat pernyataan, Al-Qur’an juga memuat kalimat-kalimat pertanyaan yang bersifat introspektif untuk menyadarkan manusia. Di antara kalimat pertanyaan introspektif tersebut menggunakan banyak redaksi seperti “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti?, “Afala Tadzakkarun?” Tidakkah kamu mengambil pelajaran?, “Afala Tubsirun?” Tidakkah kamu melihat?, “Afala Tasma'un?” Tidakkah kamu mendengarkan dan kalimat-kalimat lainnya. Semua kalimat pertanyaan ini mengajak manusia untuk melakukan muhasabah atau perenungan atas apa yang telah ditegaskan oleh Allah swt. Di antaranya seperti ayat Surat Al-Baqarah 44 yang mengajak manusia untuk menyuruh orang lain melakukan kebaikan namun dirinya malah yang tidak melakukannya. Ayat tersebut kemudian diikuti dengan pertanyaan “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti?. Ayat ini menjadi pengingat dan perintah bagi manusia untuk konsisten dalam perkataan dan perbuatan. Berikut 13 ayat Al-Qur’an yang di dalamnya mengandung kalimat “Afala Ta’qilun?” Tidakkah kamu mengerti? 1. Surat Al-Baqarah 44 اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca suci Taurat? Tidakkah kamu mengerti? 2. Surat Al-Baqarah 76 وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Apabila berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Akan tetapi, apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, “Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Apakah kamu tidak mengerti? 3. Surat Al-Imran 65 يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لِمَ تُحَاۤجُّوْنَ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمَآ اُنْزِلَتِ التَّوْرٰىةُ وَالْاِنْجِيْلُ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan Injil tidak diturunkan, kecuali setelah dia Ibrahim. Apakah kamu tidak mengerti? 4. Surat Al-An'am 32 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti? 5. Surat Al-A'raf 169 فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kemudian, setelah mereka, datanglah generasi yang lebih buruk yang mewarisi kitab suci Taurat. Mereka mengambil harta benda duniawi yang rendah ini sebagai ganti dari kebenaran. Lalu, mereka berkata, “Kami akan diampuni.” Jika nanti harta benda duniawi datang kepada mereka sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam kitab suci Taurat bahwa mereka tidak akan mengatakan kepada Allah, kecuali yang benar, dan mereka pun telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu mengerti? 6. Surat Yunus 16 قُلْ لَّوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا تَلَوْتُهٗ عَلَيْكُمْ وَلَآ اَدْرٰىكُمْ بِهٖ ۖفَقَدْ لَبِثْتُ فِيْكُمْ عُمُرًا مِّنْ قَبْلِهٖۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Katakanlah Nabi Muhammad, “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak pula memberitahukannya kepadamu. Sungguh, aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya sebelum turun Al-Qur’an. Apakah kamu tidak mengerti? 7. Surat Hud 51 يٰقَوْمِ لَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗاِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلَى الَّذِيْ فَطَرَنِيْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Hud berkata, Wahai kaumku, aku tidak meminta kepadamu imbalan sedikit pun atas seruanku ini. Imbalanku hanyalah dari Tuhan yang telah menciptakanku. Apakah kamu tidak mengerti? 8. Surat Yusuf 109 وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰىۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ وَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اتَّقَوْاۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Kami tidak mengutus sebelum engkau Nabi Muhammad, kecuali laki-laki yang Kami berikan wahyu kepada mereka di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka berjalan di bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan rasul? Sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mengerti? 9. Surat Al-Anbiya' 10 لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah Sungguh, Kami benar-benar telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Apakah kamu tidak mengerti? 10. Surat Al-Anbiya' 67 اُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗاَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Apakah kamu tidak mengerti? 11. Surat Al-Mu'minun 80 وَهُوَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ وَلَهُ اخْتِلَافُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ Terjemah Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Bagi-Nyalah kekuasaan mengatur pergantian malam dan siang. Apakah kamu tidak mengerti? 12. Surat Al-Qashas 60 وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتُهَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah Apa pun yang dianugerahkan Allah kepadamu, itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak mengerti? 13. Surat As-Saffat 138 وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ Terjemah dan waktu malam. Mengapa kamu tidak mengerti? Muhammad Faizin

Theburhani (logical) method is applied by philosophers to understand non-physical and spiritual objects, in the Qur'an the burhan method is implied by the words afala tatafakkarun, afala ta'qilun, afala tubshirun, afala tanzhurun, and afala yatadabbaru.

Manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan⁣ Untuk menjadi khalifah di bumi manusia⁣ Otak diciptakan sempurna untuknya⁣ Supaya berpikir mampu dilakukannya⁣ ⁣ Allah menuliskan cerita hidup manusia dengan berbagai macam perbedaan. Sebagian manusia merasakan manisnya hidup sejak ia dilahirkan. Sebagian lainnya dilahirkan dengan kondisi yang cukup menyedihkan. Pada setiap kejadiannya, Allah pasti menyisipkan hikmah supaya manusia mampu berpikir. ⁣ ⁣ Dalam kadarnya, manusia memiliki emosi jiwa dalam dirinya. Ketika terjadi suatu hal dalam dirinya, ia memiliki otak untuk memikirkan. Supaya terhindar dari mara bahaya. Supaya tak terjebak dalam kesalahan yang sama. ⁣ ⁣ Otak, anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Namun sebagai manusia, apakah kita telah menggunakan otak sebagaimana fungsinya? Apakah kita telah memaksimalkannya dalam kehidupan kita? Dalam al-qur'an, Allah bertanya "afala ta'qiluun, afala tatafakkarun" yang artinya apakah engkau tidak berpikir? Apakah engkau tidak menggunakan otakmu? Kalimat yang menjadi teguran untuk kita sebagai hamba Allah.⁣ ⁣ Afala ta'qiluun, afala tatafakkarun. Kalimat yang mempertanyakan apakah kita telah memanfaatkan anugerah otak yang telah diberikan Allah kepada kita? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Dalam kalimat itulah Allah menganjurkan supaya kita mampu menggunakan otak untuk berpikir. Supaya mampu berpikir setelah membaca, ataupun setelah melihat sesuatu. Supaya kelak kita mampu bertindak melalui proses berpikir sebelumnya. Sehingga terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah.⁣ Penulisakan menyertakan sumber-sumber maklumat jika tulisan-tulisan adalah hasil dari laman-laman sesawang atau blog-blog lain. Semua tulisan penulis adalah merupakan pandangan, tanggapan, pengalaman dan pendapat penulis yang dirujuk kepada sumber-sumber lain (dirujuk jika ada) dan tidak merupakan hasil kajian saintifik menyeluruh (melainkan Tafakkur is an important component that must be possessed by every believer, because tafakkur is a reflection of a believer. I can see all the benefits and bad things through it. Thus explained Al-Hasan. With tafakkur, the believer will know the nature and secrets of creating his creations or stories that occur around him. So, in this process, you will also need to know about what is contained in it, as well as the environment. From several suggestions for good recitation from the Qur&39;an and Hadith that can prove that tafakkur is a very important thing. This is what makes the wisdom expert and the Sufis discuss about taking only to recite about Allah&39;s creation. They understand that by meditating they will find peace, find pleasure and ugliness and know the secret behind the creation of Allah&39;s creation. Afalatatafakkarun ? Sebagian orang berkata, “Generasi terdahulu, apabila menerima suatu perintah, hanya bersikap satu diantara dua, sami’na wa atha’na atau sami’na wa ‘ashaina (kami mendengar dan kami ber-‘ishyan). Yang pertama dilakukan oleh kaum mukmin sedangkan yang kedua dilakukan oleh kaum kafir dan munafiq.
24 July 2014 Afala tatafakkarun Buat orang-orang yang memperTUHANkan dalil, cuba renungkan Untuk apa Allah suruh kita berfikir jika dalil sudah lengkap semuanya ada dalam Al Quran?Nak tahu kenapa? Sebab Al Quran yang sebenarnya itu merupakan NUR bukannya tulisan dan NUR itu ada dalam diri masing-masing. “Afala tatafakkarun?” oleh IM at 1211 PM No comments Post a Comment Newer Post Older Post Home Subscribe to Post Comments Atom
Katasaya: Bukanlah seseorang itu seorang manusia jika tiada terkesan hatinya membaca tulisan sedih ini. Saudara kita di Palestin dikelar-kelar bagai tiada perikemanusiaan oleh manusia-manusia yang bertopengkan syaitan!! Bayangkan keadaanmu di sana, di ketika itu. Kamu lihat ibumu disepak-sepak bagai bola selepas dikelar kepalanya.

Ketua Yayasan Fahmina Cirebon, KH. Husein MuhammadOleh KH. Husein MuhammadJika kita tidak mau berpikir, memikirkan atau bahkan anti intelektualisme, maka kita harus menerima ketertinggalan dan keterpurukan nasib kita. Kita akan terus tertinggal dan termarjinalkan dari panggung sejarah sesungguhnya terus menerus mendorong umatnya untuk selalu berfikir dan memikirkan sesuatu dan hal di dalam diri dan di alam semesta ciptaan Tuhan ini. Berkali-kali al-Qur’an menyebutkan “Afala Tatafakkarun” apakah kamu tidak memikirkan, “Afala Ta’qilun”,apakah kamu tidak menggunakan akalmu, “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?.Kepada khususnya bangsa Arab Al-Qur’an mengatakan dan Nabi diminta untuk mengingatkan merekaأَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ . وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ. فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”. Al-Ghasyiyah, 17-20.Pada ayat lain Allah menegaskan seraya menegur orang-orang yang rajin membaca atau menghapal al-Qur’an tetapi tidak mempelajari atau memahami isinyaافلا يتدبرون القران ام على قلوب اقفالها“Afala yatadabbarun al-Qur’an Am Ala Qulubin Aqfaluha”.Apakah kalian tidak memikirkan/merenungkan isi al-Qur’an, atau hati mereka terkunci”. Muhammad, 24.Menarik sekali redaksi yang digunakan untuk menyampaikan perintah berpikir itu. Redaksi “Apakah tidak”, merupakan bentuk kritisisme al-Qur’an yang sangat tajam. Ia sedang menyindir mereka yang tak mau berpikir, merenung dan memperhatikan kehidupan. Dalam ilmu sastra Arab disebut “Istifham Inkari“. Seakan-akan Allah mengatakan “kalian kok tidak berfikir. Ayo berpikir atau pikirkanlah”.Ayat-ayat di atas kini atau bahkan sudah sangat lama seperti tak lagi memeroleh perhatian yang sungguh-sungguh dari kebanyakan kaum muslimin. Mereka terkesan mengabaikannya. Aktifitas intelektual mereka berhenti ada kecenderungan baru yang menunjukkan sebagian kaum muslimin anti dialektika intelektual. Ada stigma negatif terhadap penggunaan logika rasional. Teks suci harus diikuti makna tekstualitasnya, bukan rasionalitasnya. Sekelompok kaum muslimin malahan menganggap kreatifitas dan inovasi sebagai kesesatan atau populer disebut “bidah”.Ada pula kelompok yang anti pendapat lain yang berbeda. Mereka hanya memercayai/membenarkan pendapat dirinya saja, sedang pendapat orang lain salah atau malah “kafir”. Lebih dari itu ada pula kelompok umat Islam yang anti produk pikiran dari Barat atau dari “liyan”, seperti “demokrasi”, “human right”, “nation state” negara bangsa, Bukan hanya produk konseptualnya, malahan juga produk teknologinya. meski hari-harinya mereka menjalani sekaligus menikmati produk-produk kita tidak mau berpikir, memikirkan atau bahkan anti intelektualisme, maka kita harus menerima ketertinggalan dan keterpurukan nasib kita. Kita akan terus tertinggal dan termarjinalkan dari panggung sejarah dunia. Kita menjadi konsumen dari produk intelektual dan teknologi orang lain. Ini semua merupakan konsekuensi paling logis yang harus jika kita ingin menjadi bangsa yang jaya, tak ada cara bagi kita kecuali kembali kepada kritik al-Qur’an di atas agar menjadi umat yang berpikir kritis, produktif, terbuka, menggunakan anugerah akal untuk berpikir dan memikirkan ciptaan Tuhan, merefleksikan, mengeksplore dan mengelolanya bagi kesejahteraan umat manusia. Ayo berpikir, jangan emosi. Ayo merenungkan, jangan hanya menghafalkan.

Secaraeksplisit memang dengan tulisan pemikiran dan riset saya yang mungkin mencapai belasan, saya telah mengkampanyekan paradigma pembelajaran di Indonesia memang harus segera direkonstruksi bahkan sudah dalam tataran dekonstruksi. Tidak hanya kognitif oriented seperti sekarang ini termasuk juga di kampus ini. KATA akal sering kita dengar bersama dan menjadi bagian kata yang kita ucapkan sehari-hari. Tahukah Anda? kata akal berasal dalam bahasa Arab, al-aql. Kata al-aql merupakan mashdar kata aqola – ya’qilu – aqlan artinya “paham tahu/mengerti dan memikirkan menimbang“. Dalam al-Mu’jam al-Wasith p. 616-617, kata akal disebutkan dengan istilah al-Aql. Kata tersebut merupakan salah satu bentuk derivasi dari akar kata “aqala’ yang berarti “memikirkan hakekat di balik suatu kejadian” atau rabatha mengikat. Dalam tradisi Arab Jahiliyyah, kata aqala seringkali digunakan untuk menunjuk suatu “pengikat unta” aql al-ibil. Selain itu, kata aql juga memiliki makna al-karam kemuliaan, maksudnya adalah orang yang menggunakan akalnya sesuai petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala sebagai orang yang berakal aqil. Kata ’aql disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 49 kali. Kata kerja ta’qilun diulang sebanyak 24 kali dan kata kerja ya’qilun sebanyak 22 kali. Sedangkan, kata kerja ’aqala, na’qilu, dan ya’qilu masing-masing terdapat satu kali. Yang menarik, peng-gunaan bentuk pertanyan negatif istifham inkari’ yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat seperti kata “afala ta’qilun” diulang sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah firman Allah kepada Bani Israel sekaligus kecaman dalam QS. 2 44; أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaktian, sedang kamu melupakan diri kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab Taurat? Maka tidaklah kamu berpikir? Ar-Raghib Al-Ashfahany dalam Al-Mufradat fii Gharib al-Qur’an p. 346 mengungkapkan bahwa akal merupakan daya atau kekuatan yang berfungsi untuk menerima dan mengikat dasar itulah orang yang mampu menggunakan fungsi akalnya dengan benar disebut juga dengan alim al-alim. Sebagaimana digambarkan dalam surat al-Ankabut 43 bahwa orang yang alim ialah manusia yang mampu mengambil hakekat atau manfaat dari perumpamaan yang telah disampaikan Allah Subhanahu Wata’ala. Abd Ar-Rahman Hasan dalam karyanya Al-Akhlak Al-Islamiyyah wa Asasuha p. 317 menjabarkan proses berpikir manusia. Menurutnya, berpikir berawal dari proses mengikat makna suatu pengetahuan, proses ini terdapat dalam konsep akal atau disebut juga dengan ta’aqqul yaitu proses mengikat makna suatu pengetahuan. Setelah seseorang mengikat pengetahuan maka ia dapat dikatakan sebagai orang yang mengetahui al-alim suatu objek atau tanda-tanda ayat, esensi ini terkandung dalam konsep ilmu al’-ilm. Dalam Kitab Al-Furuq Al-Lughawiyyah Baina Alfadz Al-Ilm Fi Al-Qur’an ditegaskan bahwa akal adalah daya atau kekuatan untuk menerima ilmu. Maksudnya, ilmu merupakan buah dari berpikir dengan hati. Adapun orang yang berpikir atau manusia yang telah menggunakan akalnya secara benar bisa dikatakan sebagai orang yang alim. Sebab dengan proses berpikir yang benar itulah ia akan sampai pada derajat orang yang tahu alim. Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang berpikir dengan benar ialah orang yang alim. Lihat Al-Ankabut 43. Dengan demikian,aktifitas berpikir manusia harus bersifat terus-menerus. Dan setelah seseorang mengetahui suatu tanda ayat maka ia selanjutnya harus memikirkan hakekat yang terkandung di balik tanda tersebut, proses ini disebut dengan tafakkur. Dan ketika seseorang telah mendapatkan pelajaran dari aktifitas berpikir tersebut maka yang harus dilakukan ialah memahaminya secara benar dan mendalam, proses memahami hasil natijah proses berpikir itu disebut dengan tafaqquh. Setelah seseorang memahami suatu ilmu maka yang harus dilakukan selanjutnya ialah mengingat apa yang telah ia pahami dari hakekat tersebut. Proses seperti ini disebut dengan tadzakkur. Dan ketika manusia selalu mengingat ilmu yang telah ia pahami maka upaya terakhir yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berpikir ialah tadabbur atau melihat kembali hakekat dari suatu peristiwa atau ilmu yang telah dipelajari sebelumnya. Jadi, konsep akal sangat sarat akan nilai-nilai ilmu pengetahuan. Dengan akal, manusia diarahkan untuk memikirkan hal-hal yang bisa dijangkau untuk menangkap esensi di balik suatu tanda. Sehingga, ketika manusia mampu memahami hakekat suatu ilmu maka akan bertambah pula keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hal inilah yang membedakan cara pandang Islam terhadap cara pandang Barat yang lebih menitikberatkan akal pada aspek rasional semata. Dalam Oxford, Advanced Learner’s Dictionary 1995, p. 970, akal reason seringkali diartikan dengan “the power of the mind to think, understand” kemampuan otak untuk berpikir. Dalam perspektif ini terlihat ada perbedaan secara konseptual antara pengertian umum Barat dan pengertian al-Qur’an yang mendefiniskan akal sebagai kemampuan hati untuk berpikir. Pemahaman seperti inilah yang tersebar saat ini sehingga muncullah berbagai paham Barat seperti sekularisme, dualisme, humanisme, dan rasionalisme. Semua bermuara pada pemahaman terhadap pikiran yang khas cara pandang Barat yang mengabaikan kehadiran wahyu sedang Islam tidak. Akal dalam Islam mencakup dimensi intelektual, emosional, dan spiritual yang sesuai fitrah manusia dengan tanpa meninggalkan bantuan wahyu. Pemahaman di atas berimplikasi pada perkembangan ilmu, iman dan amal seseorang serta mampu menjadikannya pribadi yang beradab.*/Mohammad Ismail
Dariapa yang saya tulis di atas, tentu pembaca akan lebih mudah untuk menjawab dan menentukan pilihan Capresnya dalam Pilpres April 2019 mendatang. Sapere aude ! Beranilah berpikir ! Afala ta'qilun ! Gunakanlah akalmu ! Afala tatafakkarun ! Gunakanlah fikiranmu ! Wallahu a'lamu bisshawab(SHE). Jakarta, 24 Februari 2019. Saiful Huda Ems (SHE).
Islam obviously encourages its adherents to continuously think about their inner selves and all God’s creation in the universe as well. It is emphasized by Qur’anic verses which frequently mention “Afalaa Tatafakkarun” don’t you think?, “Afala Ta’qilun”, don’t you use your wits?, “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, and in yourselves, don’t you see? .The Qur’an says and the Prophet is also asked to remind, particularly, the Arabic people and generally to all humankind as bellow;Then do they not look at the camels, how they are created? And at the sky, how it is raised? And at the mountains, how they are erected? And at the earth – how it is spread out? Al-Ghasyiyah [88] 17-20. In other verses, Allah also confirms and rebukes people frequently reciting or memorizing Qur’an but do not learn or understand its messages Then do they not reflect upon the Qur’an, or are there locks upon [their] hearts? Muhammad [47] 24. In fact, it is interesting to see the terms used in Quran to deliver the command to think. The use of prohibition term “do not” according to me is a slate within Qur’anic criticism. The term explicitly declares that Allah is insinuating those who are unwilling to think, brood over and pay attention to life. In Arabic literary, the way He says is called “Istifham Inkari” in which as if Allah saying “You all don’t think. Then, think about it!” Unfortunately, those verses above were no longer receive the earnest attention of most Muslims in present or even since long periods. It seems to be ignored and Muslim scholars were ceased for centuries. It is even worse seeing the current circumstance of Muslims in which there is a new perspective on religion among Muslims. It shows that they tend to be anti-intellectual dialectic as well as having a negative view on using rational-logic in understanding religion. According to this group, the sacred text must be understood and followed by its textual meaning with totally abandoning the rational perspective. They, instead, consider a creativity and innovation within religious practices as a misleading or popularly called “bid’ah” heresy. They even totally reject the different others. This group merely consider that their opinion is the only truth while others’ are defiant or infidels. In addition, at the extreme level, they generally also anti-everything from the West such as democracy, human right and including nation-state concept. The rejection is not merely against the West’s notion but, for some instances, also against the products of technology. It is like a paradox considering that in their daily life, they, in fact, use the West’s products while on the other hand, they also condemn it. This phenomenon basically remind us that if we are unwilling to think about or even anti-intellectualism, consequently we continuously must be lag and left behind and being marginalized in the world history. We always remain to become consumers of other’s intellectual and technological products. Therefore if we are yearning to be a glorious nation, there is no way but returning to the critics from the Qur’an; being critically thought, productive, open, using our mind to think about God’s creation, reflecting, exploring and managing it for the well-being of mankind. Let’s think, don’t be so emotional. Let’s reflect from Qur’an, don’t just memorize Terjemahkankedalam bahasa arab. 1. Mereka sudah pulang dari sekolah 2. Mereka berdua (P) sedang membaca buku 3. Katakanlah kepadaku wahai saudari perempuan ku 4. Sebutkan bentuk Fi’il Amr dari lafadz َوَعَد untuk menyuruh kalian berdua (P) 5. Sebutkan bentuk Fi’il Mudhari’ dari lafadz وَعَى untuk mereka 2 orang (P) 6. Malang - Salah satu akar di balik terjadinya berbagai kerusakan global di dunia ini yaitu paradigma pengembangan sains yang tidak mengindahkan nilai-nilai etis, spiritual dan kebermaknaan. Demikian pernyataan presiden moderator Asian Conference of Religion Peace ACRP Din Syamsuddin saat menjadi pembicara pada The 1st International Conference on Pure and Applied Research ICoPAR yang berlangsung Sabtu kemarin 22/8 di Universitas Muhammadiyah Malang UMM. Menurut Din, paradigma sains hendaknya diarahkan pada nilai-nilai kemaslahatan. Ilmu ekonomi, lanjut Din, pastinya dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan, demikian pula ilmu politik, mestinya diniatkan untuk mewujudkan keadilan. “Kalau politik melanggengkan oligarki, berarti politiknya tidak bernilai, hampa makna,” ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia MUI ini. Untuk itulah, Din menilai, yang terpenting dari sains adalah bagaimana kebermaknaan dan nilai-nilai yang dikandungnya. Dalam konteks pembangunan, kata Din, jika dunia banyak berbicara tentang sustainable development with equity pembangunan berkelanjutan yang berkeadilan, maka Islam senantiasa mengajak pada paradigma sustainable development with meaning pembangunan berkelanjutan yang bermakna. Paradigma tersebut, papar Din, berakar pada prinsip-prinsip sains Islam yang di antaranya yaitu harmoni dan korespondensi antara dimensi Tuhan dan alam semesta, atau lebih tepatnya dimensi Sang Pencipta dan yang dicipta. Tidak mungkin manusia dan alam semesta bekerja tanpa mengindahkan nilai-nilai etis-spiritual ketuhanan. Terkait pengembangan sains, Din menegaskan, Islam merupakan agama yang sangat menekankan pentingnya berpikir. Tak heran, dalam al-Quran banyak terdapat ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata afala ta’qilun apakah kamu tidak berakal, afala tatafakkarun apakah kamu tidak berpikir atau afala yatadabbarun apakah mereka tidak merenung. Bagi Din, petikan kata-kata tersebut merupakan sindiran yang bermaksud memerintahkan manusia agar senantiasa berpikir, merenung serta menggunakan akalnya. Din bahkan menyebut bahwa dalam al-Quran pertanyaan retoris seperti di atas disebut tidak kurang dari 200 kali, yang sekaligus menunjukkan betapa pentingnya berpikir. Nilai-nilai tersebut, kata Din, dalam sains diterjemahkan dalam bentuk penelitian dan pengembangan research and development. “Sayangnya di Indonesia riset sulit berkembang karena terkendala budget yang minim. Padahal, hal ini sangat krusial, terutama bagi dunia kampus,” ungkap mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat PP Muhammadiyah ini. han pHLU.
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/486
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/307
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/353
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/437
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/47
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/459
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/315
  • 0y8cvvvx0y.pages.dev/368
  • afala tatafakkarun tulisan arab